
Elmadani.id_Indonesia, Korea Selatan, dan China adalah tiga negara yang baru-baru ini menancapkan tonggak bersejarah dalam industri penerbangan dunia.
Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) diketahui bermitra dan bekerja sama dalam pengembangan KF-21 Boramae.
KF-21 Boramae adalah jet tempur supersonik canggih yang berasal dari patungan bersama antara Indonesia dan Korea Selatan.
Setelah bertahun-tahun lamanya menunggu, KF-Boramae akhirnya berhasil menyelesaikan uji terbang pertamanya pada Selasa, 19 Juli 2022.
Dikutip dari Kedglobal, prototipe KG-21 Boramae lepas landas di Bandara Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan, sekitar 300 kilometer selatan dari Seoul, pukul 15.40.
Usai terbang selama 33 menit dengan kecepatan sekitar 400 kilometer, KF-21 Boramae kemudian mendarat pukul 16.13 waktu Seoul.
Keberhasilan uji terbang prototipe KF-21 Boramea disambut oleh banyak pihak.
Korea Selatan kemudian mencatatkan diri sebagai negara kedelapan di dunia yang sukses mengembangkan jet tempur supersonik canggih buatan dalam negeri setelah berhasil menyelesaikan fase pertama uji terbang KF-21 Boramae.
Diketahui, hanya ada enam negara yang pernah mengembangkan jet tempur super sonik, yakni Amerika Serikat (AS), Rusia, China, Prancis, Jepang, dan Swedia serta konsorsium Eropa yang meliputi Inggris, Jerman, Italia, dan Inggris.
Tak mau ketinggalan dari Korea Selatan dan Indonesia, China juga menciptakan tonggak sejarah baru di industri penerbangan.
Pesawat komersial “Made in China” bernama C919 telah menyelesaikan uji terbang pertamanya dan diharapkan mulai beroperasi pada 2023 setelah mendapatkan sertifikasi.
“Pesawat C919 telah menyelesaikan uji terbang dan diharapkan beroperasi pada 2023,” kata China Commercial Aircraft Corporation (COMAC).
“Pesawat C919 akan segera disertifikasi setelah enam pesawat telah menyelesaikan uji terbang,” sambung COMAC.
Dalam pernyataan yang berbeda yakni melalui pengumuman di situs webnya, COMAC mengatakan penyelesaikan tes oleh enam C919 menunjukkan bahwa model tersebut telah memasuki tahap akhir untuk menerima sertifikat dari Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC).
Sertifikat ini akan berisi pengesahan bahwa C919 telah memenuhi syarat untuk dioperasikan secara komersial.
“Ini adalah kemenangan penting dalam pengembangan C919,” kata COMAC dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Baogiaothong.vn.
Setelah Uji Terbang Lantas Bagaimana?
Keenam pesawat C919 telah melakukan uji terbang sejak 2019 hingga sekarang. Uji terbang dilakukan di berbagai kota yang ada di China.
Pemimpin Redaksi majalah Pengetahuan Aerospace (berbasis di Beijing), Wang Yanan, mengatakan CAAC dan COMAC akan melakukan penilaian yang komperehensif dari proses dan hasil uji terbang di tahun-tahun sebelumnya.
Jika persyaratan terpenuhi, CAAC akan memutuskan untuk mengeluarkan sertifikay kelaikan udara.
Setelah itu, COMAC akan segera melakukan uji terbang pada rute komersial serta memberikan pelatihan teknologi bagi pilot dan tim terkait.
Proses ini akan memakan waktu selama 6 hingga 12 bulan.
“Jika semua prosesnya berjalan lancar, maka C919 dapat dioperasikan secara komersial pada tahun 2023,” kata Mr. Wang.
Sementara itu, berbicara pada konferensi yang diadakan pada Januari, Wakil Direktur Jenderal COMAC, Wu Yongliang, mengatakan bahwa proses serah terima pesawat C919 diharapkan dapat dilakukan pada 2022 segera setelah pesawat disertifikasi.
Belum Selesai, C919 Sudah Laris Manis di Pasaran
C919 adalah pesawat penumpang pertama di China dengan 158-168 kursi dan jangkauan 4.075-5.555km.
China sudah menguji pesawat tersebut sejak 2017.
Meski belum menyelesaikan proses sertifikasi, C919 ternyata sudah sangat laris manis di pasaran.
Hingga saat ini, COMAC telah menerima 815 pesanan pesawat C919 dari 28 mitra di seluruh dunia.
Salah satu kesepakatan penting C919 terjadi pada Maret 2021 di mana COMAC menandatangani kontrak untuk menjual 5 pesawat C919 ke China Eastern Airlines.
Menurut informasi dari maskapai, saat diserahkan, C919 akan melayani rute dari Shanghai ke Beijing, Guangzhou, Shenzhen, dan Chendu.
Kemudian pada 10 Mei 2022, China Eastern Airlines mengatakan pihaknya berencana untuk mengumpulkan 15 miliar yuan atau setara dengan $2,21 miliar untuk membeli 38 pesawat C919 dan ARJ21-700.
Menurut catatan penjualan, harga setiap pesawat C919 diberandol sebesar $99 juta atau setara dengan Rp 1,4 triliun.
Berbanding Terbalik dengan KF-21 Boramae
KF-21 Boramae dan pesawat C919 sama-sama baru melakukan uji terbang.
Keduanya ternyata memiliki perbedaan nasib.
Pesawat komersial “Made in China” pertama bernama C919 sangat laris manis di pasaran.
Hal ini tentu berbeda dengan KF-21 Boramae.
KF-Boramae yang ditujukan untuk industri pertahanan lebih sulit dijual karena pasarnya lebih sempit dibandingkan dengan industri pesawat komersial.
Hingga saat ini, Korea Selatan masih terus mencari mitra atau negara yang mau membeli KF-21 Boramae.
“Korea Aerospace Industries (KAI) yang memproduksi KF-21 Boramae, tidak akan menghasilkan keuntungan kecuali dapat mencapai skala ekonomi dengan mengekspor sejumlah pesawat tempur,” tulis Hani.co.kr dalam laporannya menjelaskan tentang tantangan yang harus dihadapi Korea Selatan dalam hal penjualan.
Indonesia sendiri diproyeksikan sebagai pembeli terbesar KF-21 Boramae.
Setelah menjadikan Indonesia sebagai basis pembeli, Korsel mengincar negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Selain Asia Tenggara, Korea Selatan juga akan menawarkan KF-21 Boramae ke Timur Tengah.