Ketika Ketakutan Itu Sendiri Menjadi Momok

“The only thing we have to fear is fear itself.” — Franklin D. Roosevelt, Pidato Pelantikan, 4 Maret 1933.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Elmadani.id_Gema suara itu datang dari sembilan dekade silam, dari sebuah panggung pelantikan di Washington D.C. yang dingin. Franklin Delano Roosevelt, di hadapan bangsa Amerika yang remuk oleh Depresi Besar, tidak menawarkan janji muluk atau solusi instan. Ia justru menunjuk satu musuh utama yang tak kasat mata, yang lebih berbahaya dari pabrik-pabrik yang berhenti beroperasi atau antrean panjang di dapur umum: ketakutan itu sendiri. Sebuah ketakutan yang melumpuhkan, yang membuat orang berhenti berharap, berhenti mencoba, dan berhenti percaya.

Kini, di tengah riuh rendah Jakarta dan di lorong-lorong sunyi pedesaan Indonesia, gema itu seolah menemukan resonansinya kembali. Bukan dalam skala Depresi Besar, tentu saja, tetapi dalam serpihan-serpihan kecemasan kolektif yang jika disatukan, membentuk sebuah mozaik kelabu tentang kondisi bangsa beberapa tahun terakhir.

Lihatlah gejalanya. Nadi ekonomi terasa melambat bagi sebagian besar warga. Harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik dengan kecepatan yang tak sepadan dengan kenaikan upah. Para pelaku usaha kecil menengah, tulang punggung ekonomi kerakyatan, mengeluh daya beli yang lesu. Di media sosial, keluhan tentang cicilan yang mencekik dan dompet yang kian tipis di akhir bulan menjadi lagu sendu yang dinyanyikan berjamaah. Ini bukan sekadar angka inflasi di atas kertas; ini adalah realitas pahit di meja makan jutaan keluarga.

Pemerintah mungkin menyajikan data bahwa angka kemiskinan secara statistik menurun tipis. Sebuah narasi yang terdengar indah di ruang-ruang rapat berpendingin udara. Namun, di lapangan, ceritanya berbeda. Garis kemiskinan mungkin bergeser, tetapi jurang antara si kaya dan si miskin terasa kian menganga. Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya kelompok “nyaris miskin”, mereka yang hidupnya hanya sejarak satu PHK atau satu musibah dari jatuh ke jurang kemelaratan. Ketakutan akan masa depan finansial ini nyata, mencengkeram erat leher kelas menengah yang selama ini menjadi penopang stabilitas.

Ketakutan ini merambat ke sektor ketenagakerjaan. Setiap tahun, jutaan anak muda lulus dengan ijazah di tangan dan harapan di dada, hanya untuk berhadapan dengan tembok tebal lapangan kerja yang terbatas. Pengangguran, terutama di kalangan terdidik, meningkat tajam. Fenomena “generasi sandwich” semakin meluas, di mana usia produktif harus menanggung beban ekonomi orang tua dan anak-anak mereka sekaligus. Ijazah yang dulu dianggap tiket emas menuju kehidupan lebih baik, kini sering kali hanya berakhir sebagai selembar kertas yang tersimpan rapi di dalam laci.

Namun, ketakutan yang paling korosif mungkin bukanlah ketakutan ekonomi semata, melainkan erosi kepercayaan sosial. Masyarakat terasa terbelah, terkotak-kotak dalam sentimen politik dan identitas yang tak kunjung usai. Percakapan di warung kopi hingga di grup WhatsApp keluarga bisa dengan mudah tersulut menjadi perdebatan sengit. Ada dinding-dinding tak kasat mata yang memisahkan “kita” dan “mereka”. Polarisasi ini menciptakan ketakutan baru: ketakutan untuk berbeda pendapat, ketakutan untuk menyuarakan kritik, dan ketakutan terhadap tetangga sendiri. Kepercayaan, fondasi utama dari sebuah bangsa, perlahan-lahan terkikis.

Di tengah pusaran ketakutan ini, pemerintah seolah tampil gamang, seperti orkestra yang kehilangan dirigennya. Kebijakan-kebijakan yang diluncurkan sering kali terasa reaktif, tambal sulam, dan kurang memiliki visi jangka panjang yang solid. Komunikasi publik yang seharusnya menenangkan justru terkadang menambah kebingungan. Ada kesan bahwa pemerintah lebih sibuk mengelola citra ketimbang mengurai akar masalah. Akibatnya, alih-alih merasa terlindungi, publik justru merasa ditinggalkan untuk berjuang sendiri-sendiri. Pegangan itu seolah lepas, dan arah kapal besar bernama Indonesia ini menjadi kabur di tengah badai.

Di sinilah kutipan Roosevelt menjadi relevan secara menakutkan. Masalah-masalah yang dihadapi Indonesia—ekonomi, pengangguran, polarisasi—adalah nyata dan berat. Tetapi, dampak dari masalah-masalah itu diperparah oleh “ketakutan itu sendiri”. Ketakutan membuat investor menahan diri. Ketakutan membuat pengusaha enggan berekspansi. Ketakutan membuat masyarakat saling curiga dan enggan berkolaborasi. Ketakutan membuat orang-orang terbaik bangsa memilih apatis atau mencari peruntungan di negeri lain.

Ketakutan ini menjadi sebuah siklus setan. Ekonomi yang memburuk melahirkan ketakutan, dan ketakutan itu kemudian semakin memperburuk ekonomi. Masyarakat yang terpecah menimbulkan ketakutan, dan ketakutan itu semakin mempertajam perpecahan. Pemerintah yang kehilangan arah memicu ketakutan, dan ketakutan publik yang meluas membuat pemerintah semakin sulit untuk menemukan arah.

Maka, tantangan terbesar Indonesia hari ini mungkin bukan hanya tentang memperbaiki angka-angka statistik. Tantangan terbesarnya adalah memutus siklus ketakutan itu. Ini membutuhkan kepemimpinan yang berani dan empatik, yang tidak hanya menyajikan data, tetapi juga mampu merangkul dan menenangkan kecemasan warganya. Ini membutuhkan narasi persatuan yang tulus, bukan sekadar jargon politik. Dan yang terpenting, ini membutuhkan tindakan nyata yang bisa dirasakan dampaknya, yang mampu mengembalikan secercah harapan dan kepercayaan.

Karena seperti yang dibuktikan Roosevelt, sebuah bangsa baru bisa mulai bangkit ketika ia berhenti membiarkan dirinya dilumpuhkan oleh ketakutannya sendiri. Pertanyaan yang menggantung di udara Jakarta yang kian panas bukan lagi soal kapan badai akan reda, melainkan: siapa yang akan memegang kemudi dan memandu kapal ini keluar dari kabut ketakutan yang diciptakannya sendiri? ***

Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *