Ketahanan UKM: Dari Nilai Lokal ke Strategi Global

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Elmadani.id_Saat pandemi COVID-19 menghempas dunia tanpa ampun, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) jatuh berantakan. Namun, ada pula yang justru mampu bertahan, beradaptasi, bahkan tumbuh. Apa rahasianya? Buku “Small and Medium-Sized Enterprise (SME) Resilience: Strategies for Risk and Crisis Management”, yang disunting oleh Susanne Durst dan Thomas Henschel, mencoba menjawab pertanyaan itu lewat kumpulan riset lintas negara dan lintas disiplin.

Buku yang diterbitkan oleh Springer Nature Switzerland pada 19 Maret 2024 ini bukan sekadar tumpukan teori manajemen. Ia menjelma menjadi kaleidoskop strategi bertahan hidup UKM dari berbagai penjuru Eropa, mulai dari Jerman, Swedia, hingga Estonia. Narasi yang ditawarkan bukan heroisme wirausaha tunggal, melainkan kerja kolektif, nilai-nilai lokal, dan fleksibilitas organisasi yang dijahit dalam benang merah ketahanan.

Pada bagian awal, buku ini mengupas tuntas konsep ketahanan dari sisi teoretis. Literatur tentang organizational resilience di kalangan UKM rupanya masih minim dan terpecah-pecah. Padahal, UKM menyumbang porsi besar terhadap perekonomian global. Namun, ketahanan mereka sering kali dianggap bawaan alam: lincah, kecil, dan dekat dengan pasar. Buku ini membongkar anggapan itu. Ketahanan ternyata bukan bawaan lahir, tapi bisa dibentuk—melalui sistem kontrol manajemen, investasi digital, hingga pelatihan berbasis gamifikasi.

Salah satu temuan penting datang dari studi di Jerman dan Polandia mengenai asuransi gangguan bisnis. Meski berguna sebagai penyangga risiko, penetrasi asuransi di kalangan UKM masih rendah. Di sisi lain, UKM keluarga di Swedia dan Jerman menunjukkan pola yang menarik: nilai kekeluargaan yang kuat bisa memperkuat kohesi, tetapi juga menghambat inovasi jika tidak dikelola.

Di Estonia, para pemilik toko ritel kecil menunjukkan bentuk ketahanan yang berbeda. Saat pandemi memaksa banyak toko gulung tikar, mereka justru merangkul komunitas lokal dan mempercepat digitalisasi. Ini menunjukkan bahwa ketahanan bukan sekadar kemampuan bertahan, tapi juga keberanian mengambil lompatan strategis.

Model ketahanan yang diperkenalkan buku ini tidak tunggal. Ada yang menekankan kematangan organisasi dalam mengenali dan merespons krisis. Ada pula yang menekankan pada kelincahan tenaga kerja sebagai pilar utama. Di bab lain, pelatihan gamifikasi ditawarkan sebagai cara baru menginternalisasi ketahanan dalam keseharian karyawan UKM. Yang menarik, semua pendekatan itu tidak bertentangan, tapi saling melengkapi.

Pelajaran berharga lainnya datang dari UKM di sektor leasing dan manufaktur. Mereka menunjukkan bahwa diversifikasi pendapatan dan jaringan pelanggan yang luas bukan hanya strategi bisnis, tapi juga investasi ketahanan. Kesiapan menghadapi guncangan ternyata bisa dibangun pelan-pelan, dari sistem pencatatan keuangan yang rapi hingga budaya pembelajaran berkelanjutan.

Buku ini tak melulu bicara soal alat dan strategi. Di bagian akhir, pembaca diajak merenungi filosofi dan nilai-nilai etika yang menopang ketahanan. Ketahanan yang sejati, tulis para penulisnya, adalah soal kemampuan bertahan tanpa kehilangan arah dan nilai. Ini menohok banyak narasi bisnis yang selama ini lebih menyanjung profit ketimbang keberlanjutan.

Apa maknanya bagi Indonesia? UKM di negeri ini jumlahnya lebih dari 64 juta, menyumbang lebih dari 60 persen PDB dan menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional. Namun, sebagaimana dicatat banyak studi, UKM di Indonesia rentan pada guncangan, dari fluktuasi harga bahan baku, regulasi yang berubah-ubah, hingga ketergantungan pada pasar tradisional. Buku ini memberi petunjuk: resiliensi bukanlah soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling siap.

Artinya, negara harus hadir bukan hanya lewat bantuan dana, tetapi juga dengan membangun ekosistem yang mendukung ketahanan: regulasi yang berpihak, akses pembiayaan yang adil, pelatihan adaptif, dan penguatan jejaring lokal. Lebih dari itu, penting juga menanamkan nilai-nilai filosofi bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan dan kolektivitas, bukan sekadar efisiensi individual.

Buku ini adalah bacaan penting bagi siapa saja yang peduli pada masa depan UKM—dari akademisi, birokrat, hingga pelaku usaha sendiri. Ia menunjukkan bahwa ketahanan tidak bisa dibentuk dalam semalam, tapi harus dirawat dalam keseharian. Lewat inovasi kecil, hubungan yang kuat, dan keberanian untuk berubah.

Seperti halnya benih yang tumbuh dalam badai, ketahanan UKM tidak muncul dari langit. Ia ditanam, dipupuk, dan diuji—berulang kali. Buku ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang makin tak pasti, daya lenting menjadi aset paling penting yang dimiliki usaha kecil. Bukan hanya untuk bertahan, tapi juga untuk tumbuh dan memberi makna.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *